Oreo

Please wait...

 
Berita

PMU Bahas Percepatan Akselerasi Program Sumber Dana RMP Bersama Rektor Dan Pimpinan Fakultas.

PMU Bahas Percepatan Akselerasi Program Sumber Dana RMP Bersama Rektor Dan Pimpinan Fakultas.

Malang – Rabu (09/09/2020) Project Management Unit (PMU) membahas Akselerasi program sumber dana Rupiah Murni Pendamping (RMP) bersama Rektor dan para Pimpinan Fakultas yang ada di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam pembahasan kali ini lebih difokuskan keranah pengembangan Fakultas dan Program Studi yang ada di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui sumber dana Rupiah Murni Pendamping (RMP). 

Terdapat 4 sesi pembagian waktu untuk pembahasan kali ini. Mulai pukul 08:00-09:30 WIB dihadiri oleh pimpinan Fakultas Ekonomi, Syari’ah dan Psikologi; pada pukul 10:00-11:30 WIB dihadiri oleh pimpinan Fakultas Saintek, FKIK dan Humaniora; pada pukul 13:00-14:30 WIB dihadiri oleh pimpinan Fakultas FITK; serta pada sesi terakhir jam 15:00-16:30 WIB dihadiri oleh Pimpinan Pasca Sarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Pembahasan kali ini dihadiri langsung oleh Abdul Haris, selaku RektorUIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Di awal rapat koordinasi Beliau menyampaikan, “Harus melakukan percepatan akselerasi program sumber dana Rupiah Murni Pendamping (RMP) yang dikelola oleh PMU, dari dana tersebut  poin penting untuk meningkatkan reputasi Internasionalisasi Kampus terletak pada skema peningkatan pengembangan kelembagaan Program Studi”.

Muhtadi Ridwan, selaku Direktur Project Management Unit (PMU) menyampaikan, “Tindak lanjut terkait percepatan realisasi dana Rupiah Murni Pendamping (RMP) saat ini akan difokuskan pada pengembangan Capacity Building dan Curriculum Development. Project Management Unit (PMU) posisinya disini sebagai penyedia dana dan penyalur dana serta juga harus memonitor pengeluaran penggunaan dana tersebut”.

Zainal Habib, selaku Manager Project Management Unit (PMU) memaparkan beberapa rencana program guna percepatan realisasi dana Rupiah Murni Pendamping (RMP) terkait alokasi dana tersebut. Beliau juga meenyampaikan, “Terdapat 9 klaster program penelitian yang sudah dilaunching dan sudah dipublish sehingga seluruh Jajaran Pimpinan dari setiap Fakultas harus menggepush  kembali guna menyukseskan program ini. Serta diwajibkan bagi seluruh Jurusan Program Studi untuk melakukan sebuah riset guna menunjukkan ciri khas keunggulan-keunggulan dari setiap Jurusan Program Studi tersebut, dan membentuk sebuah Tim untuk penyusunan Ensiklopedia. Otput dari riset tersebut nantinya harus diwujudkan dalam bentuk buku Blue Print yang ranahnya mengarah pada reputasi Internasionalisasi Kampus”. 

Tutik Hamidah, selaku Ketua LP2M juga menambahkan, “Semua Jurusan Program Studi akan mendapatkan dana penggembangan kelembagaan penelitian. Semu dana penelitian yang akan disalurkan tersebut harus terdokumentasi dan termonitor secara digital, sehingga dari pihak PMU dan LP2M dapat memonitornya”. “Dari penelitian-penilitan harapannya akan melahirkan berbaiagi jurnal penelitian. Oleh sebab itu penelitian-penelitian yang akan dilakukan harus sesuai dengan kompetensi bidang keilmuan dari setiap dosen karena program ini juga merupakan bentuk dari pengembangan SDM”. Tutur Nur Ali, selaku Ketua Bidang Penelitian LP2M.

Pada akhir rapat Abdul Haris, selaku Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memberikan penegasan kembali, beliau menyampaikan kepada seluruh jajaran Pimpinan Fakultas, “Karena terbatasnya waktu untuk penggunaan sumber dana Rupiah Murni Pendamping (RMP) pada tahun 2020, kita harus fokus pada rencana penelitian yang sudah dipublish oleh PMU yang bekerja sama dengan LP2M. Serta kita juga harus fokus pada 3 hal yaitu, skema untuk pengembangan kelembagaan pada setiap Jurusan Program Studi; pembuatan Ensiklopedia pada setiap Jurusan Program Studi; dan Pengembangan kurikulum pada setiap Jurusan Program Studi. Dari keseluruhan rencana pengembangan tersebut harus mengarah pada reputasi Internasionalisasi Kampus karena hal tersebut sangat selaras dengan tujuan penggunaan dana Rupiah Murni Pendamping (RMP) yang didanai oleh Saudi Fund for Development (SFD)”. (red.Mhe)